Pemberantasan

Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat

Terkini


Kamis, 2 Juli 2020

Pemetaan Daerah Rawan Narkoba, BNN Kota Bandung Lakukan Percepatan Kelurahan Bersinar

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kota Bandung menjadi permasalahan yang tidak bisa diselesaikan hanya oleh BNN Kota Bandung saja, perlu adanya peran serta dari seluruh instansi pemerintah dan komponen masyarakat di Kota Bandung. Kamis, 2 Juli 2020 bertempat di Fox Harris Hotel Bandung, BNN Kota Bandung menyelenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat yang membahas tentang pemetaan daerah rawan narkoba dan calon penggiat anti narkoba di Kota Bandung dalam rangka pelaksanaan Bandung Bersinar. Kegiatan yang dihadiri oleh beberapa instansi pemerintah baik itu dari lapas dan rutan, beberapa dinas dari pemerintahan Kota Bandung, kecamatan, kelurahan, BPOM dan juga beberapa lembaga rehabilitasi dan beberapa unsur masyarakat merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba yang bertujuan untuk meningkatkan mengumpulkan data dari beberapa intansi pemerintah, lembaga rehab dan juga komponen masyarakat yang akan dijadikan acuan untuk menentukan wilayah mana yang menjadi wilayah yang rawan akan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba serta untuk mengajak peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sehingga tercipta partisipasi dan kemandirian dari segenap instansi pemerintah dan komponen masyarakat guna mewujudkan Bandung Bersinar (Bersih Narkoba)Dalam kegiatan Rapat Koordinasi ini, narasumber dari pemerintah Kota Bandung menyampaikan bahwa dalam rangka peran serta dalam upaya P4GN ada beberapa upaya yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bandung. Secara regulasi di tingkat Kota Bandung telah dibuat Perda No 12 Tahun 2015 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif dan Kepwal No. 800/Kep.459-BKBP/2020 Tentang Tim Terpadu P4GN dan Prekursor Narkotika. Dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan mengenai dukungan Pemerintah Kota Bandung dalam upaya P4GN seperti Mengoptimalkan Sinergitas Peran dari 59 Perangkat Daerah termasuk Camat dan Lurah serta Mitra Strategis (Polrestabes dan Kodim dalam Tim Terpadu P4GN, pembentukan Kelurahan Bersinar di 151 Kelurahan, Menjadikan indikator penilaian wajib (Laporan Tahunan) dalam Sistem Informasi Penilaian (SIP) Lurah Juara berdasarkan Perwal No. 036 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Evaluasi Kinerja Camat dan Lurah di Kota Bandung, Mendorong Pemberian Penghargaan (Award) kepada Kelurahan Bersinar Terbaik di Kota Bandung serta pengakomodiran ruang lingkup kegiatan dalam PIPPK (Perwal 015 Tahun 2019) Maupun DAU Bankel Pendanaan Kelurahan (Permendagri 130 Tahun 2018. “Kehadiran Kelurahan Bersinar diharapkan dapat menghimpun partisipasi masyarakat dan semua potensi yang ada  secara sinergis dalam rangka mewujudkan upaya melindungi  keluarga, masyarakat dari bahaya narkotika dengan mengoptimalkan upaya – upaya pencegahan/ edukasi”, ujar Suharyanto, S.STP selaku kasubbag Bina Kewilayahan pada Bagian Pemerintahan Setda Kota Bandung saat menyampaikan materi kepada para peserta.Pada kegiatan tersebut kepala BNN Kota Bandung mengatakan bahwa dalam upaya penanggulangan bahaya narkoba, strategi pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba di Indonesia harus dilakukan secara sistematis dan terintegrasi. “Upaya pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi harus diperlakukan seperti sistem yang saling melengkapi. Upaya tersebut tetap mengikuti acuan penanganan bahaya narkoba secara internasional, tapi disesuaikan dengan kondisi riil di nasional”, ujar ujar AKBP Deni Yus Danial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung.  Dengan sinergitas dari seluruh intansi pemerintah dan komponen masyarakat pada kegiatan hari ini diharapkan akan mempermudah  terkumpulnya data dukung untuk menentukan wilayah yang rawan narkoba untuk penentuan prioritas wilayah yang harus diperhatikan dalam hal P4GN, sehingga upaya percepatan meujudkan Bandung bersinar dapat segera terealisasi dengan optimal


Senin, 29 Juni 2020

Perkuat Sistem P4GN di Lapas Kelas IIA Banceuy, BNN Kota Bandung Lakukan Pencanangan Lapas Bersinar

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Bahaya narkoba sudah tergolong fenomena global, tidak hanya di Indonesia. Dalam upaya penanggulangan bahaya narkoba, strategi pencegahan bahaya penyalahgunaan narkoba di Indonesia harus dilakukan secara sistematis dan terintegrasi. Antara pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi harus diperlakukan seperti sistem yang saling melengkapi. Upaya tersebut tetap mengikuti acuan penanganan bahaya narkoba secara internasional, tapi disesuaikan dengan kondisi riil di nasional. BNN aktif mengikuti berbagai forum dan kegiatan tingkat Asia dan internasional. Sesuai panduan di forum-forum tersebut, terkadang penanganan di titik beratkan pada bidang pemberdayaan, seperti memberdayakan kampung-Lingkungan bersinar. Kali lain penanganan fokus pada upaya rehabilitasi. Pada waktu berbeda, fokus pada usaha pencegahan.Senin, 29 Juni 2020, masih dalam rangkaian kegiatan Hari Anti Narkotika Internasional HANI 2020 yang diperingati setiap tanggal 26 Juni sebagai bentuk keprihatinan dunia serta memperkuat aksi dan kerja sama secara global untuk memerangi masalah narkoba, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat kota Bandung tentang bahaya narkoba serta guna mewujudkan lapas bersih narkoba (bersinar) telah dilaksanakan kegiatan Pencanangan Lapas Bersinar Lapas Kelas 11A Banceuy Bandung melalui penendatanganan Perjanjian kerjasama (PKS) antara BNN Kota Bandung dengan Lembaga Permasyarakatan Kelas 11A Banceuy Bandung di ruang loby gedung utama-lantai bawah Lapas Kelas IIA Banceuy Bandung. Senada dengan tema HANI 2020 yaitu “Hidup 100% di Era New Normal: Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba”, diperlukan kesadaran bahwa masalah penyalahgunaan ndan peredaran gelap narkoba ini mengakibatkan dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba adalah merusak kesehatan fisik, mental, spiritual, dan menggoyahkan kondisi ekonomi, sosial, dan keamanan negara yang memerlukan penanganan serius dan juga sinergitas antara BNN dengan seluruh komponen masyarakat termasuk pada lingkungan lembaga permasyarakatan, mengingat kondisi pada Lapas Kelas IIA Banceuy sebanyak 85 % yaitu 813 orang dari 948 orang penghuni lapas terlibat kasus penyalahgunaan ataupun peredaran gelap narkoba.Dalam kesempatan tersebut Kepala BNN Kota Bandung mengatakan bahwa aplikasi dalam pencegahan, BNN kota Bandung tidak selalu datang ke lingkungan terus menerus dan tempat tertentu di masyarakat dengan hanya memberikan ceramah bahaya narkoba, namun lebih jauh lagi diperlukan peningkatan peran pemerintah daerah dan masyarakat dengan BNN kota Bandung, seperti menjalin kerjasama dengan membuat Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan berbagai instansi dan lingkungan untuk mendukung program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) di Kota Bandung diantaranya kerjasama dengan lembaga permasyarakatan. Kerjasama dengan lapas dapat dilakukan dengan membuat standar operasional prosedur (SOP) kerja, memperkuat regulasi intern lapas, membentuk tim terpadu lapas,  penerapan sistem teknologi dan informasi, serta pengawasan di lapas dalam upaya P4GN.“Jadi strategi bukan hanya pencegahan, bukan hanya pemberantasan, bukan hanya rehabilitasi. Kalau fokus satu bidang saja, menjadi tidak terarah. Padahal, upaya penanggulangan narkoba sebaiinya  seperti sistem, yang satu akan memengaruhi yang lain.  Melihat konvensi UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) sebagai acuan dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba dengan cara global, tapi juga disesuaikan dengan cara di Indonesia, demikian pun utk kota Bandung”, ujar AKBP Deni Yus Danial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung.


Sabtu, 27 Juni 2020

Peringatan HANI 2020 Secara Virtual, BNN Kota Bandung Gelar Nobar Konser Amal Grup Band Slank bersama BNN RI

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Bandung, BNN Kota Bandung menggelar nonton bareng konser amal virtual bertajuk #Hidup100% bersama grup band Slank selaku Duta Anti Narkoba Indonesia, Sabtu malam (27/6). Nobar berlangsung di kantor BNN Kota Bandung Jalan Cianjur No. 4, Bandung, Jawa Barat. Konser amal virtual yang diselenggarakan BNN RI dengan menggandeng Kompas TV itu, digelar dalam rangka peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tahun 2020. Kegiatan konser amal itu sendiri berlangsung di Gedung Utama BNN Jakarta. Konser amal grup band Slank disiarkan secara LIVE dari Kompas TV mulai pukul 20.00 WIB dan juga dapat diakses melalui streaming kanal YouTube KompasTV. Rosianna Silalahi, Direktur Pemberitaan Kompas TV, hadir sebagai pembawa acara kegiatan tersebut. Rosi menyampaikan $Hidup 100% yakni Sehat, Sadar, Produktif dan Bahagia saat membuka acara. Sementara itu, Kepala BNN, Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, SH, dalam acara dengan Kompas TV, menuturkan pada pertengahan tahun ini pihaknya telah berhasil mengungkap 12.000 kasus penyalahgunaan narkotika. Namun meski demikian pihaknya merasa prihatin dengan masih banyaknya narkoba jenis-jenis baru. Oleh karena itu, konsen BNN sekarang ini adalah bagaimana mengidentifikasi dan mengedukasi jenis-jenis narkoba, terutama pada generasi muda, dengan tujuan agar mereka bisa imun terhadap peredaran narkoba. Ketika ditanya Rosi perihal masih banyaknya generasi muda yang menjadi pecandu narkoba, Heru, menjelaskan, penanganan terhadap berbagai kasus tidak selalu sama. Karena selain ada generasi milenial juga ada generasi game. Sehingga pihaknya telah membuat program- program yang bukan dari BNN, tetapi partisipan dari mereka, seperti dengan diadakannya kegiatan ruang-ruang edukasi anti narkotika.


Jumat, 26 Juni 2020

Video Conference dengan Presiden RI, Dalam Rangka Puncak Peringatan HANI 2020

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung -Tanggal 26 Juni ditetapkan sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 26 Juni 1988 sebagai bentuk keprihatinan dunia, memperkuat aksi dan kerja sama global, serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memerangi masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Dalam acara puncak peringatan HANI 2020 pada tanggal 26 Juni 2020, BNN Kota Bandung bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung menggelar kegiatan video conference bersama Presiden Republik Indonesia dan penyerahan penghargaan kepada penggiat anti narkoba bertempat di Balaikota Bandung. Acara ini diikuti pula oleh Forkopimda Kota Bandung menunjukkan Kota Bandung serius menggarap penanganan masalah narkotika. Para tamu yang yang turut hadir pada kegiatan ini antara lain :

  • Wali Kota
  • Wakil Wali Kota
  • Sekretaris Daerah Ketua DPRD Kapolrestabes Dandim Kejaksaan Negeri DanLanAL DanLanUD Pengadilan Negeri DanDenPom
Menurut data BPS jumlah populasi warga negara Indonesia pada 2019 mencapai 268.074.600 jiwa. Proporsi jumlah penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) sebanyak 181.354.900 jiwa atau 67.65% total populasi. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang begitu besar, bonus demografi Indonesia ini harus dilindungi dari penyalahgunaan narkoba. Mengingat saat ini berdasarkan hasil survei BNN RI dan Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI Tahun 2019 diketahui bahwa prevalensi pernah pakai narkoba (life time prevalence) di Jawa Barat sebesar 0,60% atau setara 95.259 jiwa (usia 15-62 tahun). Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah pemakai narkoba menggunakan jarum suntik terbanyak di Indonesia mencapai 20% dari seluruh pemakai narkoba di Jawa Barat yang jumlahnya mencapai 13.608 jiwa.Penerima Penghargaan sebagai Penggiat Anti Narkoba karena telah berkontribusi terhadap program P4GN baik di wilayah SKPD  maupun di wilayah Kelurahan Dalam rangka Kelurahan bersinar di Kota Bandung yaitu :
  1. Ketua KPA Kota Bandung
  2. Kepala Badan Kesbangpol Kota Bandung
  3. Kepala BKPP Kota Bandung
  4. Perwakilan Gabungan Artis Seniman Sunda Kota Bandung
  5. Kelurahan Kacapiring
  6. Kelurahan Kujangsari
  7. Kelurahan Cimencrang
  8. Kelurahan babakan
Kota Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat perlu melakukan antisipasi melalui upaya penguatan program P4GN dan peningkatan peran serta pemerintah daerah dan partisipasi seluruh masyarakat Kota Bandung untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba. Peringatan HANI tahun 2020 memiliki tema “Hidup 100% di Era New Normal: Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba” dilakukan di Kota Bandung dengan inovasi pemanfaatan teknologi informasi dan media sosial serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah :1. Mengembangkan sistem pertahanan diri masyarakat dari ancaman bahaya narkoba secara intensif melalui upaya promotif melalui pengembangan kecakapan hidup yang bersih dari narkoba.2. Mengembangkan sistem deteksi dini penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat.3. Selanjutnya bersinergi berkolaborasi mengoptimalkan peran serta instansi pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat dalam kampanya masif anti narkoba.4. Mengembangkan layanan rehabilitasi di Kota Bandung bagi pecandu narkoba secara terpadu dan berkelanjutan.Melalui momen HANI 2020, BNN Kota Bandung dan Pemerintah Kota Bandung mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam menyuarakan Hidup 100% Tanpa Narkoba melalui berbagai kolaborasi lintas sektor, melakukan integrasi P4GN dalam berbagai kegiatan Kota Bandung, dan melakukannya secara konsisten. “Gaya hidup 100% sehat tanpa narkoba sebagai implementasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) akan mampu menghasilkan generasi Indonesia yang sehat jasmani dan rohani, produktif dan bahagia, serta mampu mewujudkan Kota Bandung yang unggul, nyaman, sejahtera dan agamis, serta bersinar (Bersih Narkoba)” ujar AKBP Deni Yus Dasnial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung.


Kamis, 25 Juni 2020

Kelurahan Bersinar pada Hari Anti Narkotika Internasional 2020

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) setiap tahun diperingati pada tanggal 26 Juni dengan tujuan untuk memperkuat aksi dan kerjasama secara global, sebagai bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial-ekonomi, serta keamanan dan perdamaian dunia.Dalam rangka memperingati HANI tahun 2020 yang memiliki tema “Hidup 100% di Era New Normal: Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba”, BNN Kota Bandung bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung dan Polrestabes Bandung, menyelenggarakan acara Diskusi Online melalui aplikasi Zoom berjudul: Fasilitasi P4GN di Kelurahan Menuju Kota Bandung yang Unggul, Nyaman, Sejahtera, Agamis, dan Bersinar (Bersih Narkoba) pada hari Kamis, 25 Juni 2020, pukul 10.00-11.00 WIB, yang diikuti sebanyak 85 orang peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Acara ini bertujuan memberikan informasi tentang implementasi dan optimalisasi pelaksanaan P4GN di tingkat Kelurahan. Acara ini menampilkan beberapa narasumber yaitu: AKBP Deni Yus Danial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung, Dr. Kamalia Purbani, MT selaku Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra Kota Bandung, Kompol Mulyaningsih, SH selaku Wakasat Binmas Polrestabes Bandung, dengan moderator Saras Putri Utami, S.I.Kom. selaku Penyuluh Narkoba Ahli Pertama. Mengingat saat ini berdasarkan data BPS jumlah populasi warga negara Indonesia pada 2019 mencapai 268.074.600 jiwa, dan jumlah populasi warga Provinsi Jawa Barat pada 2019 mencapai 49.316.700 juta jiwa atau sebesar 18,37%. Sedangkan berdasarkan data BNN Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2019 prevalensi penyalahguna narkoba di Jawa Barat sebesar 0,60% atau 95.259 jiwa. Dari data tersebut dapat disimpulkan dampak penyalahgunaan narkoba sangat serius, namun hal ini tidak mengurungkan niat masyarakat untuk menyalahgunakannya.Dr. Kamalia Purbani, MT memaparkan “Masalah narkoba dapat diatasi mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Para keluarga inilah yang menjadi ujung tombak perwujudan Kelurahan Bersinar. Ketahanan keluarga adalah strategi utama bagi seorang anak untuk dapat memfilter dirinya dari pengaruh tidak baik dan tekanan lingkungan sekitarnya. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak, integrasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) ke dalam program-program Kelurahan dan Kecamatan, serta mampu melaksanakan P4GN secara konsisten di lingkungannya.”Hal ini ditambahkan oleh Kompol Mulyaningsih, SH yang memaparkan “Babinkamtibmas telah melakukan beberapa kegiatan P4GN di lingkungan warga binaannya seperti melakukan pembinaan penyuluhan ke sekolah-sekolah dan Karang Taruna, melakukan program Sambang yaitu menyambangi rumah warga jika ada informasi bahwa ada penyalahgunaan narkoba di lingkungan kelurahan atau kecamatan binaannya, dan bersama 3 pilar lainnya yaitu Babinsa dan Lurah bersinergi untuk menyelesaikan permasalahan narkoba secara langsung di tingkat kelurahan.”“Tanggung jawab kita bersama, bukan hanya BNN saja untuk melakukan implementasi P4GN. Tugas BNN adalah menggerakkan dan menyatukan berbagai pihak agar P4GN hadir di Kota Bandung sehingga terwujud Hidup 100% Sehat Tanpa Narkoba untuk Kota Bandung yang unggul, nyaman, sejahtera dan agamis, serta bersinar (Bersih Narkoba)” ujar AKBP Deni Yus Danial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung.


Sabtu, 13 Juni 2020

Selebriti dan Gaya Hidup Bersih Narkoba

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Hai, Sahabat Anti Narkoba!!

Pendaftaran FREE klik :

https://bit.ly/Peserta_Gass

Kalian tau gak kalau tanggal 26 Juni setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI)? Peringatan HANI dilakukan untuk memperkuat aksi dan kerjasama secara global sebagai bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial-ekonomi, serta keamanan dan perdamaian dunia.Dalam rangka memperingati HANI 2020 yang memiliki tema: "Hidup 100% di Era New Normal: Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba", BNN Kota Bandung bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung dan Gabungan Artis & Seniman Sunda (GASS) mempersembahkan sebuah acara menarik yaitu:DISKUSI ONLINE "Selebriti dan Gaya Hidup Bersih Narkoba" Selasa, 16 Juni 2020 Pukul 13.00 WIB-Selesai Via Zoom Cloud MeetingYuks buruan daftar! 20 pendaftar pertama akan mendapatkan free merchandise loh :)#stopnarkoba #stopcoronavirus #wajibpakaimasker #BDGbersinar #humasbnnkbdg #hani2020 #cageur100%tanpanarkoba #hidup100%


Sabtu, 9 Mei 2020

Mengundang Masyarakat untuk ber”Bincang Online” dengan BNN Kota Bandung

📍Pendaftaran :

Telah Ditutup

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Assalamualaikum Warahmatullahi WabarakatuhBosan dengan Physical Distancing? Jenuh dengan #dirumahsaja?? Yuk hidupkan kegiatan #dirumahsaja di bulan suci Ramadhan dengan sesuatu yang seru, produktif dan bermanfaat bagi kita semua😁BADAN NARKOTIKA NASIONAL KOTA BANDUNG DAN SAT RES NARKOBA POLRESTABES BANDUNG_MempersembahkanBINCANG ONLINE: "Upaya Penanggulangan Dampak Penyalahgunaan Narkoba di Tengah Pandemi Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial di Kota Bandung"

Pelaksanaan : 📆 : Rabu, 13 Mei 2020 ⏰ : 09.30 - 12.00 📱 : Via Aplikasi Zoom (diberikan setelah pendaftaran) 💰 : Free

🔖Benefit ;📊 Ilmu Pengetahuan tentang P4GN. 💪 Meningkatkan imunitas terhadap ancaman bahaya Narkoba ✅ E-notulensi 🤝 Menambah relasi📍 terbuka untuk umum
Ayoo Segera ikutan ?? 🤷‍♀️🤷🏻‍♂️👩‍🎓👨‍🎓 sebelum kuota kehabisan. 😊😊😊🤷‍♀️

bisa WhatsApp ke Narahubung : ☎️1. Intan Tyagita Ramdani, A.Md. 📞(085624400909) ☎️2. M. Jaenal Mutaqin, A.Md.📞(089611064100)

#BandungBersinar Bersama Wujudkan Bandung Bersih Narkoba.


Rabu, 10 Juni 2020

Pembuatan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN)

PENDAFTARAN PEMBUATAN SKHPN bisa klik di :

https://bit.ly/REGISTRASISKHPNBNNKBDG

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Upaya penanggulangan penyebaran covid-19 di lingkungan BNN dari tingkat pusat hingga daerah telah dilakukan dengan sangat serius dan komprehensif. Utamanya dari sisi preventif, seluruh BNN di daerah telah mengimplementasikan berbagai langkah, dari mulai pengukuran suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer, penyemprotan disinfektan, anjuran berjemur di waktu tertentu hingga melaksanakan work from home. sehubungan dengan hal tersebut, Layanan Pembuatan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) dapat dilayani kembali dengan memperhatikan Protokol Kesehatan. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembuatan SKPN diantaranya dengan mengisi Formulir Pendaftaran.Persyaratannya antara Lain :
  1. mengisi Formulir pendaftaran dengan Klik Links di bawah
  2. Menyiapkan / Membeli alat Tes Urin 6 Parameter di Apotek
  3. Datang ke Klinik BNN Kota Bandung dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Cek Suhu Tubuh, Wajib Pakai Masker, Jaga Jarak dan Cuci Tangan)


Selasa, 16 Juni 2020

BNN Kota Bandung Bersama Gabungan Artis Seniman Sunda Suarakan Gaya Hidup Bersih Narkoba

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) setiap tahun diperingati pada tanggal 26 Juni dengan tujuan untuk memperkuat aksi dan kerjasama secara global, sebagai bentuk keprihatinan dunia terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika yang berdampak buruk terhadap kesehatan, perkembangan sosial-ekonomi, serta keamanan dan perdamaian dunia. Dalam rangka memperingati HANI tahun 2020 yang memiliki tema “Hidup 100% di Era New Normal: Sadar, Sehat, Produktif, dan Bahagia Tanpa Narkoba”, BNN Kota Bandung bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandung dan Gabungan Artis Seniman Sunda (GASS), menyelenggarakan acara Diskusi Online melalui aplikasi Zoom berjudul "Selebriti dan Gaya Hidup Bersih Narkoba" pada hari Selasa, 16 Juni 2020, yang diikuti sebanyak 303 orang peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Acara ini bertujuan memberikan informasi dan himbauan bagi masyarakat tentang pentingnya memiliki gaya hidup sehat dan bersih dari penyalahgunaan narkoba, dan menjadi bentuk peran serta artis dan seniman Sunda dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Ada 11 orang anggota GASS yang menghadiri dan berkontribusi dalam acara Diskusi Online ini yaitu Armand Maulana, Dewi Gita, Melly Goeslaw, Anto Hoed, Ferry Maryadi, Deswita Maharani, Hedi Yunus, Vina Panduwinata, Agus Wisman, Devi Waluyo, dan Achie Padmo.Mengingat saat ini berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional bekerja sama dengan Pusat Penelitian masyarakat dan Budaya-LIPI Tahun 2019 diketahui bahwa 240 dari 10.000 penduduk Indonesia berumur 15-64 tahun terpapar pernah memakai narkoba yaitu sebesar 2,40% (4.534.744 jiwa). Sedangkan 180 dari 10.000 Penduduk Indonesia berumur 15-64 tahun terpapar memakai narkoba selama satu tahun terakhir, yaitu sebesar 1,80% (3.419.188 jiwa). Meski dampak penyalahgunaan narkoba sangat serius, ternyata tidak mengurungkan niat masyarakat untuk menyalahgunakannya. Dalam pembukaan acara ini, Brigjen Pol. Drs. Sufyan Syarief, MH, selaku Kepala BNN Provinsi Jawa Barat, mengemukakan bahwa saat ini Indonesia adalah konsumen narkotika terbesar di Asia Tenggara, dengan prevalensi penyalahgunaan narkoba terbesar di Indonesia adalah wilayah Jawa Barat yaitu sebesar 3%.Permasalahan penyalahgunaan narkoba dan pandemi covid-19 ini adalah dua hal yang berbeda namun memiliki satu kesamaan, sama-sama membutuhkan kesadaran akan gaya hidup sehat, baik itu sehat jasmani, sehat rohani, sehat pikiran dalam membuat keputusan mengenai pilihan gaya hidup yang dijalani. “Jangan pernah mencoba, jangan ada keinginan untuk ingin tahu atau ingin mencoba yang namanya narkoba karena narkoba adalah kebahagiaan palsu, narkoba hanya membuang semua hal yang baik dalam diri kita, kalau sudah terjerumus untuk cabut dari narkoba butuh niat 100.000% dan disertai dukungan orang terdekat”, ujar Hedy Yunus. Vina Panduwinata menambahkan “Menangani anak sekarang berbeda dengan zaman dulu, butuh komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak”. “Orangtua harus memberikan contoh yang baik bagi anak-anak, dan harus menjaga lingkungan pergaulan mereka”, ujar Deswita Maharani. Armand Maulana dan Dewi Gita menambahkan, “Orangtua harus mengajarkan anak-anak untuk tidak mencoba narkoba dan memberitahu dampak narkoba yang bisa menghancurkan hidupnya contoh dampak hukuman pidana berapa lama, dampak kesehatan seperti apa, dan lain-lain”. Agus Wisman menambahkan “Orangtua harus mengenal pergaulan anak-anaknya karena saya sebagai orangtua terkadang khawatir dengan pergaulan anak sekarang, dibutuhkan pergaulan dan lingkungan yang baik untuk menjaga agar anak-anak tetap memiliki kebiasaan dan kehidupan yang baik”. Wakil Walikota Bandung, H. Yana Mulyana, SE, memaparkan “Banyak regulasi yang sudah dibuat di Kota Bandung untuk mendukung P4GN, sekarang masyarakat Kota Bandung tinggal menjalankannya. Masalah narkoba dapat diatasi mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga, adanya didikan orangtua agar anak tidak mencoba narkoba”. Devi Waluyo mengatakan “Dalam memberikan edukasi tentang narkoba perlu memberitahu efek atau dampak dari narkoba bukan hanya untuk diri sendiri tapi bagaimana penyalahgunaan narkoba itu mampu mempengaruhi kehidupan seluruh keluarganya juga”. “Hidup 100% sehat tanpa narkoba adalah implementasi P4GN agar mampu menghasilkan generasi Indonesia yang sehat jasmani dan rohani, produktif dan bahagia, serta mampu mewujudkan Kota Bandung yang unggul, nyaman, sejahtera dan agamis, serta bersinar (Bersih Narkoba)” ujar AKBP Deni Yus Danial, S.IP, MH selaku Kepala BNN Kota Bandung, seraya menutup kegiatan Diskusi Online. 


Rabu, 22 April 2020

Layanan Online Klinik Pratama BNN Kota Bandung ditengah Pandemi Covid-19

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Upaya penanggulangan penyebaran covid-19 di lingkungan BNN dari tingkat pusat hingga daerah telah dilakukan dengan sangat serius dan komprehensif. Utamanya dari sisi preventif, seluruh BNN di daerah telah mengimplementasikan berbagai langkah, dari mulai pengukuran suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer, penyemprotan disinfektan, anjuran berjemur di waktu tertentu hingga melaksanakan work from home.sehubungan dengan hal tersebut, Untuk memberikan pelayanan terbaik kepada Masyarakat, BNN Kota Bandung khususnya Bidang Rehabilitasi selama masa pandemi Covid-19 ini, membangun layanan Konsultasi/Konseling Online mengenai penyalahgunaan narkoba untuk masyarakat kota bandung.

PENDAFTARAN LAYANAN ONLINE ini dapat dilakukan melalui telepon/WhatsApp di 0888 2298 190 bisa klik di :

http://bit.ly/LayananOnlineRehabilitasi

“Jaga jarak dari corona, jaga keluarga dari bahaya penyalahgunaan narkoba!”#stopnarkoba #BDGBersinar #stopcoronavirus #wajibpakaimasker 


Sabtu, 30 Mei 2020

Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba Jenis Sabu

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Tahukah Anda bagaimana cara melakukan pertolongan pertama ketika orang mengalami sakau karena sabu-sabu atau narkoba? Tak banyak orang yang tahu bagaimana melakukannya. Padahal cara ini begitu penting diketahui.Sebelum membahas mengenai tips melakukan pertolongan pertama pada penderita yang mengalami sakau, ada baiknya mengetahui bagaimana gejala sakau itu terjadi dan ciri-ciri orang yang mengalami sakau karena Sabu-sabu.Gejala sakau bisa terjadi karena penghentian pemakaian narkotika secara mendadak atau menurunnya dosis narkoba yang digunakan. Gejala sakau karena sabu, terjadi akibat pemberhentian pemakaian sabu secara mendadak. Katakanlah 2 bulan ini pemakai berat, tiba-tiba dia berhenti akan jadi sakau. Gejala tubuh akibat pemberhentian mendadak atau akibat menurunnya dosis sabu secara drastis.

Ciri-Ciri Orang Sakau

Ada beberapa tanda atau gejala yang dialami orang sakau karena sabu. Berikut ini beberapa di antaranya :
  • depresi,
  • Mudah Marah,
  • mual muntah, kejang
  • mood yang mudah berubah,
  • sulit berkonsentrasi
  • paranoid,
  • Nafsu makan meningkat,
  • Halusinasi,
  • kecemasan,
  • Mudah gelisah,
  • tidurnya terlalu lama,
  • Ketika ada masalah ada kecenderungan bunuh diri,
  • menarik diri,
  • Mengisolasi diri dari orang yang sering bergaul,
Gejala Fisik Pecandu Sabuyang mudah diidentifikasi adalah :
  • kulit pucat
  • kontak mata yang buruk.
  • bicara gagap
  • badan yang ngilu
  • kumal, penampilan fisik berantakan,
  • pergerakan lambat,
  • bibir (terlihat) semacam mau ngunyah,
  • kelelahan yang ekstrem

Langkah-langkah Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba / Sabu-Sabu

Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan ketika ada orang yang mengalami sakau karena narkoba.

1. Siapkan air panas di dalam botol

Fungsi dari air panas ini untuk menghilangkan sakit perut pada pengguna. Caranya botol berisi air panas itu bisa diletakkan pada bagian perut pengguna sehingga kondisi orang ini akan merasa lebih baik.

2. Letakkan di ruangan yang tenang.

Ketika Anda mendapati teman, saudara atau teman sedang sakau, Anda harus cari tempat yang tenang dan kemudian tempatkan orang tersebut di dalam ruangan. Dengan ruangan yang tenang, kondisi kejiwaan penderita ini bisa menjadi lebih tenang.

3. Hubungi Dokter atau Tenaga Medis

Segera cari bantuan dari tenaga medis agar bisa melakukan penanganan terhadap orang yang sedang sakau ini. Dengan penanganan yang tepat, nantinya bernagsur-angsur orang yang sakau itu akan pulih.

4. Sediakan Media Hiburan

Misalnya televisi, majalah atau radio. Dengan media hiburan itu bisa menjadi sarana pengalih perhatian bagi penderita yang sedang sakau.

5. Hindari Memberi Obat

Sebaiknya kita tidak langsung memberikan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit. Sebaiknya kita menunggu instruksi dari dokter mengenai obat yang tepat diberikan pkepada orang yang tengah sakau ini.

6. Temani

Jangan biarkan orang yang sakau sendirian. Pastikan ada selalu yang menemani untuk memastikan kondisinya dalam keadaan baik.

7. Coba Berkomunikasi

Coba untuk berbicara dengan pasien ini dengan cara yang tenang. Dengan begitu, kita bisa tahu seberapa jauh efek sakau yang dialami oleh pasien ini.Jika memungkinkan, coba tanya seberapa banyak narkoba yang dikonsumsi. Dengan begitu kita bisa mengidentifikasi apa jenis narkoba atau sabu yang digunakan oleh pasien dan nantinya hal ini bisa diberitahukan kepada tenaga medis.

8. Siapkan Ambulance

Dalam kondisi tertentu, biasanya penanganan lanjutan akan dilakukan di rumah sakit. Oleh karena itu, kita bisa mencoba mencari ambulance agar ketika dibutuhkan pasien ini bisa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

9. Upayakan Pasien tetap tenang

Pada narkoba jenis tertentu bisa membuat orang menjadi sangat agresif. Karena itu, kita bisa coba untuk terus menenangkan pasien.

10. Lepas pakaian

Terkadang pada kasus sakau tertentu, orang tersebut akan merasa kegerahan. Untuk itu, kita bisa coba untuk melepaskan baju pasien agar kondisi tubuhnya bisa lebih dingin.

11. Pantau Terus Kondisi Pasien

Jika sampai misalnya orang yang sakau itu sampai pingsan, ini menunjukan kondisinya memburuk. Penting untuk selalu ada yang mengawasi kondisi pasien ini.

12. Percayakan pada Tenaga Media

Biarkan dokter atau tenaga medis yang membantu penanganan orang yang sedang sakau ini. Percayakan sepenuhnya pada ahlinya.

13. Hindari Memberi Minuman Bersoda

Hindari memberi minuman bersoda atau pun berkafein. Sebab dikhawatirkan dapat membuat kondisi pasien itu bertambah buuk.Itulah beberapa langkah yang perlu dilakukan jika mengetahui ada orang yang sedang sakau karena sabu atau narkoba. Pastikan untuk segera menghubungi tenaga medis agar kondisi pasien ini bisa cepat tertangani.#BNN#StopNarkoba#CegahNarkobaSumber :


Sabtu, 23 Mei 2020

4 Langkah Cara Mengatasi Kecanduan Narkoba

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Narkoba atau narkotika dan obat-obatan berbahaya menjadi salah satu zat yang bisa memberikan efek kecanduan pada pemakainya. Cara mengatasi kecanduan narkoba jadi semakin sulit bila pemakainya sudah menggunakan zat berbahaya tersebut dalam dosis yang tinggi dan setiap hari.Mulanya, sebagian besar pecandu hanya iseng saat memakai. Namun karena dampak yang diberikan bisa memberikan ketenangan serta halusinasi, penggunaannya menjadi sangat sulit dihentikan. Jika sudah tidak dapat terlepas dari barang tersebut, dosisnya semakin lama akan meningkat. Dan jika mencapai kecanduan tingkat akut, tidak hanya kehidupan sosial saja yang terganggu kesehatan pun akan semakin menurun serta bisa menyebabkan kematian.Karena itu, jika keluarga atau orang terdekat mengalami kecanduan narkoba, segera hentikan pemakaian dengan mencari pertolongan darurat. Jika masih tahap awal, kecanduan bisa mudah disembuhkan asalkan dibarengi niat si pemakai untuk berhenti.Ciri dari pemakai narkoba secara fisik dapat dikenali jika mengalami tanda-tanda seperti kesadaran berkurang, kesulitan bernafas, mengalami gangguan fisik dan psikologi, serta kejang-kejang karena overdosis. Makin cepat pertolongan diberikan, maka semakin mudah juga menyembuhkan kecanduan tersebut.Prosesnya pun tidak sebentar, karena tidak hanya kondisi fisik dan kesehatan saja yang dikembalikan seperti semula tetapi juga mental agar berhenti dan tidak menggunakan barang berbahaya tersebut lagi.Salah satu cara yang dilakukan untuk mengatasi kecanduan adalah dengan rehabilitasi. Pemakai bisa memanfaatkan layanan yang disediakan oleh BNN agar ketergantungan terhadap obat terlarang bisa segera ditangani.

4 Langkah Cara Mengatasi Kecanduan Narkoba

Pengguna narkoba yang sudah mengalami kecanduan, tidak akan mudah lepas dari jerat barang tersebut. Diperlukan sebuah langkah yang cepat, salah satunya dengan menghubungi BNN. Di lembaga resmi pemerintah ini, pendaftaran rehabilitasi bisa dilakukan secara online.Proses rehabilitasi nantinya akan dilakukan secara total agar pemakai tidak kembali memakai obat-obatan tersebut. Secara umum, ada 4 langkah yang dilakukan untuk mengatasi kecanduan narkoba dan di antaranya adalah:

Pemeriksaan

Pemeriksaan dilakukan tidak hanya oleh dokter tetapi juga terapis. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kecanduan yang dialami dan adakah efek samping yang muncul. Jika si pemakai mengalami depresi atau bahkan gangguan perilaku, maka terapis akan menyembuhkan efek tersebut baru melakukan rehabilitasi.

Detoksifikasi

Mengatasi kecanduan harus melalui beberapa tahapan dan salah satu yang cukup berat adalah detoksifikasi. Di sini pengguna harus 100% berhenti menggunakan obat-obatan berbahaya tersebut. Reaksi yang akan dirasakan cukup menyiksa mulai dari rasa mual hingga badan terasa sakit. Disamping itu pecandu akan merasa tertekan karena tidak ada asupan obat penenang yang dikonsumsi seperti biasa.Selama proses detoksifikasi, dokter akan meringankan efek yang tidak mengenakkan tersebut dengan memberikan obat. Di samping itu, pecandu juga harus memperbanyak minum air agar tidak terkena dehidrasi serta mengkonsumsi makanan bergizi untuk memulihkan kondisi tubuh. Lamanya proses ini sangat bergantung pada tingkat kecanduan yang dialami serta tekad yang dimiliki oleh si pemakai untuk sembuh.

Stabilisasi

Setelah proses detoksifikasi berhasil dilewati, selanjutnya dokter akan menerapkan langkah stabilisasi. Tahapan ini bertujuan untuk membantu pemulihan jangka panjang dengan memberikan resep dokter. Tidak hanya itu, pemikiran tentang rencana ke depan pun diarahkan agar kesehatan mental tetap terjaga dan tidak kembali terjerumus dalam bahaya obat-obatan terlarang.

Pengelolaan Aktivitas

Jika sudah keluar dari rehabilitasi, pecandu yang sudah sembuh akan kembali ke kehidupan normal. Diperlukan pendekatan dengan orang terdekat seperti keluarga dan teman agar mengawasi aktivitas mantan pemakai. Tanpa dukungan penuh dari orang sekitar, keberhasilan dalam mengatasi kecanduan obat terlarang tidak akan lancar.Banyak pemakai yang sudah sembuh lantas mencoba menggunakan kembali obat-obatan tersebut karena pergaulan yang salah. Karena itulah pengelolaan aktivitas sangat penting agar terhindar dari pengaruh negatif.

Atasi dengan Layanan Rehabilitasi BNN

Untuk mengatasi masalah kecanduan obat-obatan terlarang, Badan Narkotika Nasional atau lebih dikenal dengan BNN membuka layanan rehabilitasi yang dinamakan Balai Besar Rehabilitasi yang berlokasi di Bogor.Pecandu atau penyalahgunaan narkoba akan dipulihkan sepenuhnya baik dari segi fisik maupun mental. Diharapkan setelah keluar dari Balai Besar Rehabilitasi ini, mantan pecandu bisa hidup normal seperti sedia kala dan tidak menggunakan kembali obat-obatan terlarang.Untuk bisa menggunakan layanan ini, wali dari pecandu yang belum cukup umur atau pecandu yang sudah cukup umur bisa melapor atau mendaftar secara online dengan mengakses situs resmi http://rehabilitasilido.bnn.go.id atau bisa daftar rehabilitasi online. Selain itu pelaporan juga bisa diajukan ke institusi yang telah ditetapkan oleh menteri diantaranya seperti puskesmas, rumah sakit, dan lembaga rehabilitasi medis.Layanan yang disediakan oleh balai besar ini cukup menyeluruh, tidak hanya untuk penyembuhan fisik dan mental tetapi juga kerohanian. Beberapa di antaranya adalah:

Rehabilitasi Medis

Rehabilitasi secara medis meliputi detoksifikasi, pemeriksaan kesehatan, penanganan efek buruk dari penyalahgunaan narkoba, psiko terapi, rawat jalan, dan lain-lain.

Rehabilitasi Sosial

Aktivitas yang dilakukan pada tahapan rehabilitasi ini meliputi seminar, konseling individu, terapi kelompok, static group, dan sebagainya.

Kegiataan Kerohanian

Tahapan ini bertujuan untuk mempertebal mental pecandu agar semakin kuat mempertahankan niat untuk sembuh dari kecanduan.

Peningkatan Kemampuan

Kegiatan di lembaga rehabilitasi juga diisi oleh aktivitas positif salah satunya adalah mengasah skill yang dimiliki oleh pecandu agar rasa tak enak karena tidak mengkonsumsi obat-obatan teralihkan.Selain layanan-layanan yang disebutkan di atas, disediakan juga konseling untuk keluarga, terapi psikologi, hiburan, rekreasi, dan sebagainya. Semua layanan dan fasilitas yang diberikan oleh balai besar rehabilitasi BNN ini tidak dipungut biaya sama sekali kecuali penyediaan keperluan yang bersifat pribadi. Pendaftaran pun semakin dimudahkan via online atau datang ke instansi kesehatan terdekat.#Stopnarkobasumber : https://bnn.go.id/4-langkah-cara-mengatasi-kecanduan-narkoba/


Jumat, 15 Mei 2020

Ramadhan : Ancaman Narkoba Di Tengah Pandemi Corona

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Di tengah gencarnya perhatian bangsa ini akan wabah virus Corona (Covid-19) yang makin hari semakin masif, ada satu hal yang tak boleh terlupakan, yakni bahaya penyalahgunaan narkoba yang terus merusak anak bangsa negeri ini. Kita tahu saat ini wabah Covid-19 menyita seluruh perhatian kita. Tapi jangan lupa ancaman narkoba yang lebih berbahaya dimasa depan juga belum berakhir. Dalam sebulan terakhir ini saja Badan Narkotika Nasional bersama Bea dan Cukai menggagalkan peredaran gelap narkoba jenis shabu jaringan Aceh-Medan dengan barang bukti sebanyak 32 Kg di Asahan, Sumatera Utara. Ditambah lagi ditengah pandemik corona ini ada sederet artis tanah air yang lagi-lagi terciduk kasus narkoba. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan. Karena pada situasi pandemi covid-19 yang masih melanda negeri ini, telah banyak hal yang membuat aktivitas kita terhenti, namun di sisi lain masalah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba tidak pernah berhenti di Negara kita. Meski demikian, dalam konteks upaya penanggulangan narkoba, masyarakat perlu dan harus terus diingatkan bahwa ancaman narkoba sudah sejak awal sebelum serangan virus corona ini muncul.Dalam situasi sekarang ini upaya sosialisasi bahaya narkoba yang biasanya menghadirkan massa besar tentunya tidak dapat lagi dilakukan untuk sementara waktu. Namun demikian, BNNP Aceh melalui Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat tentunya harus jeli untuk mengambil langkah pencegahan yang tetap aman dan memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Dari sekian banyak opsi yang ada, Program BNN menyapa dengan mobil keliling adalah salah satu program yang telah dijalankan oleh BNNP Aceh untuk sosialisasi. Program ini dianggap aman untuk dilaksanakan, mengingat petugas tidak perlu berinteraksi langsung dengan masyarakat. Melalui program BNN Menyapa ini petugas mengkompanyekan bahaya narkoba di lokasi-lokasi yang strategis di kawasan kota dan pedesaan. Di samping itu, BNNP Aceh juga menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan penyebaran virus corona dengan cara melakukan pola hidup bersih, sehat, menjaga jarak, selalu mencuci tangan baik setelah keluar rumah maupun aktivitas di dalam rumah, tidak keluar rumah jika tidak dalam keperluan yang mendesak, dan rajin berolahraga. Khusus bagi para pelajar yang diberikan libur agar memanfaatkan waktu belajar di rumah dengan mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Selain itu BNNP Aceh juga membantu membagikan masker secara gratis kepada masyarakat. Di antaranya membagikan masker kepada pedagang pasar, kepada civitas akademik baik itu Universitas Negeri maupun Universitas Swasta, yang semua itu dilakukan sebagai upaya mencegah penyalahgunaan narkoba dan penularan Virus Corona di tengah masyarakat. Walau dalam kondisi krisis seperti saat ini kita tetap harus bekerja keras dan dituntut kreatif dan inovatif dalam melaksanakan upaya pencegahan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada 18 maret 2020 lalu menyebutkan bahwa orang dewasa yang lebih tua (lansia) dan mereka yang memiliki masalah kesehatan tertentu berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi Virus Corona ini. Selain itu ternyata, ada kelompok lainnya yang juga berpotensi dan sangat rentan terhadap Covid-19 yang masih banyak belum diketahui masyarakat awam pada umumnya. Mereka adalah orang yang merokok, pengguna vape dan penyalahguna narkoba. Mengutip tulisan Dr. Nora Volkow, direktur National Institute on Drug Abuse pada bulan maret 2020 lalu: Covid-19 dapat menyerang beberapa populasi yang memiliki gangguan penggunaan narkoba, hal ini dikarenakan Covid-19 adalah jenis virus yang menyerang paru-paru, mereka yang pada umumnya ialah perokok tembakau, pemakai ganja maupun vape dapat saja terancam. Jika ada yang mengatakan bahwa pengguna narkoba aman dari serangan Covid-19, tentunya ini merupakan hal yang keliru. Dikarenakan ketika paru-paru seseorang terkena flu atau infeksi lain, efek buruk dari merokok atau zat menguap pada narkoba yang digunakan orang tersebut jauh lebih serius akibatnya daripada orang-orang yang tidak merokok atau menggunakan narkoba. Selain merokok dan penggunaan vape orang yang menyalahgunakan narkoba jenis opioid dan metamfetamin dapat berisiko mengalami komplikasi serius Covid-19, karena efek dari zat ini terhadap pernapasan dan kesehatan paru-paru si pengguna. Salin itu, zat narkoba jenis opioid dapat memperlambat pernapasan dan telah terbukti meningkatkan angka kematian pada orang dengan penyakit pernapasan. Kapasitas paru-paru yang terpengaruh Covid-19 juga dapat membahayakan bagi penyalahguna narkoba. Begitu pula dengan pengguna narkoba jenis shabu. Metamfetamin (shabu) telah terbukti menghasilkan kerusakan paru yang signifikan karena sangat terikat pada jaringan paru. Bagi mereka yang memiliki masalah penggunaan narkoba dan saat ini sedang menjalani rehabilitasi, atau mengandalkan terapi secara langsung, melibatkan interaksi manusia, seperti sesi konseling individu atau klinik metadon, yang secara berlawanan dengan aturan “physical distancing. Tentunya berdampak pada upaya pemulihannya. Hal ini harus dapat diketahui dan dipahami oleh masyarakat bahwa orang yang menggunakan narkoba lebih cenderung berisiko terkena Covid-19 dan berbahaya dari pada mereka yang hanya sekedar merokok. Mereka yang sehat saja jika terjadi atau melakukan kontak fisik pada orang yang terkonfirmsi Covid-19 sedapat waktu berubah status menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP). belum lagi pengguna narkoba yang kita tidak ketahui terkonfirmasi Covid-19 atau tidak. Ini yang harus disadari oleh masyarakat terlepas mereka pengguna narkoba atau tidak bahwa penularan Covid-19 ini sangatlah cepat.Jika ditelisik lebih mendalam, Kenyataan miris ini tentu menghentakkan kita semua. Jika dilihat dari kasus-kasus yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, tingkat kematian yang diakibatkan oleh Covid-19 sangatlah cepat pertumbuhannya. Tingkat kematian yang diakibatkan Covid-19 di Negara kita dalam beberapa bulan saja hampir menyentuh angka 800 jiwa, dengan melawati angka 9000 kasus terhitung Januari-April 2020. Belum lagi masalah kematian yang diakibatkan oleh penyalahgunaan narkoba berdasarkan hasil penelitian Puslitkes Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional yang dalam 1 hari bisa menewaskan 30-35 orang dalam sehari. Ini tentunya sangat sulit diatasi secara bersamaan, karena penyelesaiannya melibatkan banyak faktor dan kerjasama dari semua pihak yang bersangkutan, seperti pemerintah, masyarakat, media massa, keluarga, dan pihak-pihak lain.Krisis Ekonomi & Azas ManfaatTidak hanya masalah di atas, di tengah masa darurat covid-19 tentunya dampaknya terhadapat ekonomi masyarakat kecil dan menengah tentunya sangatlah dirasakan. Ditengah beralihnya fokus pemerintah dalam penanganan Covid-19 ini, krisis ekonomi yang dirasakan, meningkatnya jumlah pengangguran dan bertambahnya tenaga kerja yang di PHK, tentunya dapat menjadi azas manfaat bagi para bandar narkoba untuk mengsuplai dan memperdagangkan barang haram tersebut. Hal ini yang harus benar-benar kita waspadai. Ketidak pahaman masyarakat mengenai narkoba dan resikonya dapat menjadi celah para bandar dalam memasarkan barang haram ini. Iming-iming ditengah masa Covid-19 ini ekonomi semakin sulit, tingkat stres masyarakat karena Covid-19 yang tinggi, sulitnya mencari pekerjaan, sudah tentu masyarakat yang tidak mengetahui dampak buruknya dan berfikir pendek dapat diperdaya dan dibohongi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab (bandar & pengedar). Jangan sampai masyarakat yang sehat lengah malah menjadi kurir narkoba.Di sini akhirnya kita dapat menyadari bahwa penyuluhan dan informasi di masyarakat mengenai bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba serta Covid-19 sampai saat ini belumlah maksimal. Untuk itu penyuluhan dan tindakan edukatif harus direncanakan, diadakan dan dilaksanakan secara efektif dan intensif kepada masyarakat yang disampaikan dengan sarana atau media yang tepat dan sesuai untuk masyarakat disamping upaya kita dalam pencegahan penyebaran Covid-19.Ramadhan Sebagai MomentumMelihat persoalan-persoalan yang terjadi baik itu covid-19 dan narkoba, maka setidaknya ada beberapa solusi altenatif atau beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, pendekatan agama. Melalui pendekatan ini, masyarakat yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Dalam Islam narkoba telah terbukti dapat merusak Agama (Addin), Jiwa (An Nafs), Akal (Al Aqli), Keturunan (An Nasli), dan Harta (Al Mali) penggunanya. Kelima Maqashid Syariah itu akan rusak dan hancur apabila seorang muslim terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, bulan ramadhan ini adalah momentum untuk membersihkan diri dari pengaruh jahat dan momentum memperbaiki diri kearah yang lebih baik.. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.Kedua, pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba. Adapun bagi mereka yang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadi yang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata. Memotivasi mereka untuk mau melakukan upaya pemulihan baik itu secara mandiri maupun melalui program rehabilitasi.Ketiga, pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini agar tersadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadirannya di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting, dan itu mendorong mereka terbentuknya self Regulation, dan Asertiveness dalam dirinya, dan akan tertanam di dalam dirinya untuk menghindari setiap ancaman dan ajakan yang merugikan mereka. Masyarakat harus dapat menerima dan merangkul mereka sebagai bagian dari komunitas sosialnya. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat menghidupkan system imun sosialnya.Inilah beberapa pendekatan yang diharapkan mampu menggerakkan hati masyarakat untuk selalu sadar secara kolektif dan mengantisipasi dalam berbagai hal. Baik itu masalah narkoba maupun masalah Covid-19. Kita semua mengharapkan kehidupan saat ini berjalan dengan baik. Namun di tengah cobaan Covid-19 ini kita tergerak untuk saling menghimbau dan mengingatkan sesama kita bahwa ancaman keberlangsungan hidup itu akan selalu ada pada setiap zaman. Semoga kita terhindar dari itu semua.Sumber :Efrar Khalid Hanas, S.PsiPenyuluh Dayamas BNN Provinsi Acehhttps://bnn.go.id/ramadhan-ancaman-narkoba-tengah-pandemi-corona/


Kamis, 14 Mei 2020

Dampak Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Gangguan Kesehatan Terkait Kerentanan Terhadap Covid-19

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Penyebaran Covid-19 (corona virus desease-19) atau dikenal dengan corona virus tengah menjadi pandemi dunia hal ini dikemukakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), situasi ini membuat semua negara di belahan dunia berupaya dengan sekuat tenaga untuk menahan penyebaran virus corona bagaimana tidak, virus ini bersifat dapat menyebar dari orang ke orang melalui droplet orang yang terinfeksi virus corona, menyebabkan kematian dan juga berdampak pada penyusutan ekonomi suatu negara. Dari data situs https://www.worldmeter.info/coronavirus/ per tanggal 30 April 2020 jumlah kasus korona virus di dunia mencapai 3.220.969 jiwa dengan total kematian 170.566 jiwa. Sedangkan untuk Indonesia mencapai 9.771 dengan jumlah kematian 784 jiwa, data ini masih terus menunjukkan peningkatan yang artinya bahwa semakin banyak orang yang terinfeksi virus corona.Lalu apa kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba?Hasil penelitian Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya–LIPI Tahun 2019, tentang Survei Penyalahgunaan Narkoba Tahun 2019 menunjukkan bahwa angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai 1,80% atau sekitar 3.419.188 jiwa atau bisa dikatakan 180 dari 10.000 Penduduk Indonesia berumur 15 – 64 tahun terpapar memakai narkoba selama satu tahun terakhir. Narkoba yang paling banyak digunakan adalah shabu, ganja diikuti oleh ATS dan zat psikotropika lainnya dengan cara penggunaannya adalah disuntik, dirokok, dihirup, disuntik & dihirup, ditelan dan sublingual.Sedangkan hasil penelitian Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019 di 6 Provinsi yang mempunyai tempat Rehabilitasi menunjukkan berbagai keluhan fisik yang oleh responden dianggap terkait dengan pemakain zat yang disalahgunakan. Terutama keluhan sehubungan dengan infeksi rongga mulut (59,5%), gangguan pernafasan (52,8%), gangguan kulit (24,1%), dan overdosis (14,1%). Dampak fisik lainnya yang mereka alami adalah pusing-pusing hebat (73%), gangguan gigi (64,1%) dan gangguan rongga mulut (60,1%) merupakan keluhan yang paling sering dikemukakan dengan variasi frekuensi kejadian gangguannya.selain itu, responden juga menyebutkan dampak jangka panjang dari penyalahgunaan zat seperti gangguan kejiwaan (13,1%), penyakit menular seksual sebanyak (6,8%), hepatitis C sebanyak (5,8%), penyakit TBC (3,0%), sirosis hati (1,5%), AIDS (2,7%) stroke (0,8%), kebocoran katup jantung (0,2%), dan penyakit lain-lain (14,6%). (Riset kesehatan dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019).Berikut penulis mengutip wawancara kualitatif dengan tenaga medis yang melakukan perawatan di lembaga rehabilitasi pada Riset kesehatan dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019.Dokter 52001, L-34 tahun”Efek shabu…..rata-rata dimasalah infeksi saluran pernafasan atas, jadi klien yang masih detoksifikasi, kadang ada keluhan batuk, sesak nafas, mungkin sebelumnya ada riwayat yang memperberat missal klien ada asma, terus pake sabu juga stimulant sehingga memperberat. Kalau yang gak punya riwayat … dari withdrawal, kadang ada sesak, berdebar-debar, kadang pusing, bervariasi. Keluhannya biasa sakit kepala, yang hilang timbul…”Berdasarkan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh “European Respiratory Journal 2020 DOI : 10.1183/13993003.00547-2020” yang berjudul “Cormorbidity and its impact on 1590 patiens with Covid-19 in China : A Nationwide Analysis pada situs erj.ersjournal.com menyebutkan bahwa adanya kormobiditas  dan karakteristik klinis serta hasil Covid-19, dengan jenis kormobiditas spesifik adalah hipertensi, penyakit kardiovaskuler lainnya, penyakit serebrovaskuler, diabetes, infeksi hepatitis B, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal kronis,  penyakit ganas dan defesiensi imun walaupun tidak ditemukan asma. Dengan kesimpulan pasien yang dikonfirmasi Covid-19 dengan kormobiditas mempunyai dampak klinis yang lebih buruk dibandingkan yang tidak.Dikutip dari berita CNN, Rabu 15 April 2020 15:20 terkait “Penyakit Penyerta Penyebab Kematian Pasien Covid-19” menyebutkan bahwa—Pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) dapat memiliki gejala yang parah dan memberatkan jika mempunyai kormobid atau penyakit penyerta. Terdapat beberapa penyakit penyerta yang bisa menyebabkan kematian pada pasien Covid-19 yaitu Hipertensi, Diabetes, Penyakit Paru (Obstruktif Kronis, asma dan TBC), Penyakit Jantung dan demam berdarah dengue (DBD).Penulis tidak ingin menyimpulkan bahwa penyalahguna narkoba yang mempunyai gangguan kesehatan seperti TBC, gangguan pernafasan, AIDS dan penyakit lainnya akan mudah terinfeksi covid-19, karena virus corona ini adalah virus baru yang membutuhkan penelitian berbasis keilmuan. Namum lebih pada bagaimana mencegah penularan covid-19 di semua lembaga rehabilitasi di Indonesia dalam bentuk kebijakan atau SOP penatalaksanaan klien di semua lembaga rehabilitasi agar petugas rehabilitasi maupun klien rehabilitasi terhindar dari infeksi corona virus. Sebagaimana diatur dalam UU Dasar Negara RI Tahun 1945 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk hidup. Hal-hal yang dapat disarankan penulis adalah :

  1. Menerapkan prosedur ketat pencegahan covid-19 kepada petugas rehabilitasi maupun klien sebagaimana anjuran pemerintah baik di rehabilitasi rawat jalan maupun rawat inap agar tidak terjadi penularan antara petugas ke klien maupun sebaliknya
  2. Meniadakan kunjungan keluarga untuk sementara waktu ke tempat rehabilitasi rawat inap
  3. Melakukan upaya penyediaan sarana kesehatan untuk deteksi dini dalam bentuk thermal scanner, tes PCR dan lain sebagainya
  4. SOP penatalaksanaan medis klien rehabilitasi yang terinveksi covid-19 (ruangan wawancara, ruangan isolasi, sarana kesehatan, obat-obatan suportif /lifesaving, vitamin, APD termasuk sistem rujukan)
  5. Menyediakan media komunikasi risiko, atau bahan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dan menempatkan bahan KIE di lokasi yang tepat
  6. Membentuk satuan tugas pencegahan Covid-19 dalam upaya penguatan lembaga rehabilitasi pemerintah maupun masyarakat terkait penatalaksanaan klien rehabilitasi di tengah pandemi covid-19.
Hal ini tentunya memerlukan keputusan yang matang dalam pembuatan kebijakan jangka panjang mengingat pandemic Covid-19 ini belum dapat diketahui kapan akan berakhir, bahkan di China tempat pertama kali muncul virus corona yang telah dinyatakan sudah berakhir mengalami gelombang kedua. Dan semoga semua petugas rehabilitasi narkoba di Indonesia dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari virus corona. #StopNarkoba#CegahNarkoba#BNNSumber :NI NYOMAN HUGYAPASNA RUSMIATI, S.KMPenyuluh Narkoba BNN Kota Jakarta Timurhttps://bnn.go.id/dampak-penyalahgunaan-narkoba-terhadap-gangguan-kesehatan-terkait-kerentanan/


Selasa, 21 April 2020

Apa itu Rehabilitasi Narkoba ?

http://bandungkota.bnn.gi.id, bandung - Punya teman atau kerabat yang kecanduan narkoba? Sudah waktunya Anda mengajak teman atau kerabat tersebut ke tempat rehabilitasi narkoba. Jangan sampai terlambat, jika Anda tidak ingin teman atau kerabat yang kecanduan narkoba tersebut jadi sulit disembuhkan atau lebih parah lagi, bisa meninggal.Di setiap kota besar dan provinsi di Indonesia biasanya memiliki tempat atau rumah sakit yang menjadi tempat rehabilitasi narkoba. Bahkan lembaga resmi Badan Narkotika Nasional (BNN) juga memberikan kemudahan untuk pendaftaran rehabilitasi narkoba online.

Apa Itu Rehabilitasi Narkoba?

Rehabilitasi narkoba adalah cara untuk memulihkan pengguna agar terbebas dari narkoba. Memang proses rehabilitasi ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Terlebih jika pasien tersebut telah kecanduan narkoba dalam waktu lama.

Jika sudah sampai pada tahap kecanduan narkoba, bisa dikenali gejala nya seperti selalu ingin mengkonsumsi narkoba setiap hari dan keinginan untuk terus menambah dosis pemakaian.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita semua mencegah ini agar tidak sampai terjadi pada keluarga maupun lingkungan kita.

Kalau sampai ada orang di sekitar kita yang mengalami kecanduan narkoba, kita bisa melakukan rehabilitasi agar kondisinya bisa cepat dipulihkan.

Tahapan Rehabilitasi Pengguna Narkoba

Adapun untuk tahapan rehabilitasi pengguna narkoba adalah sebagai berikut:

  • Tahap Rehabilitasi Medis (Detoksifikasi)

Pada tahap awal ini, dokter akan memeriksa kesehatan fisik dan mental pecandu. Dari hasil pemeriksaan, dokter kemudian bisa memberikan resep obat tertentu untuk mengurangi gejala sakau.

  • Tahap Rehabilitasi Non medis

Pada tahap kedua ini, dilakukan di tempat rehabilitasi narkoba yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat berada di tempat rehabilitasi ini, pecandu akan coba dipulihkan agar bisa kembali normal dan terbebas dari narkoba yang berbahaya.

  • Tahap Pembinaan Lanjutan

Pada tahap ini, pecandu sudah bisa kembali ke lingkungan. Namun akan tetap diawasi sehingga nantinya mantan pengguna ini tidak tergoda untuk kembali ke jalan yang salah.

Selain tahapan rehabilitasi tersebut, juga terdapat sejumlah cara terapi dan rehabilitasi untuk pengobatan narkoba. Berikut ini jenis metode pengobatan tersebut.

  • Cold Turkey

Pada metode ini, pengguna langsung dihentikan aksesnya terhadap narkoba. Biasanya pengguna akan dikurung di ruangan tertentu sampai tingkat ketergantungan terhadap narkoba itu bisa dihilangkan. Setelah itu, orang tersebut akan diikutkan konseling agar bisa bertobat dan tidak kembali tergiur dengan narkoba yang berbahaya.

  • Cara Alternatif

Di Indonesia juga ada sejumlah metode alternatif untuk penyembuhan narkoba. Biasanya metode ini dilakukan oleh orang tertentu yang biasa melakukan pengobatan alternatif.

  • Terapi Komunitas (Therapeutic Community (TC))

Merupakan metode untuk bisa mengembalikan mantan pengguna kembali ke tengah masyarakat. Menggunakan terapi ini diharapkan pengguna bisa kembali ke masyarakat dan kembali sebagai manusia yang normal.

  • Metode 12 Langkah

Metode pengobatan narkoba ini dikembangkan di Amerika Serikat. Ada 12 tahapan yang dilakukan sehingga nantinya pengguna itu bisa kembali sembuh.

Penting juga diketahui ada tempat rehabilitasi narkoba rawat inap dan rawat jalan di seluruh Indonesia.

Sesuai fungsinya, tempat rehabilitasi narkoba rawat inap itu bisa digunakan untuk merehabilitasi pengguna narkoba sambil menginap. Sedangkan untuk tempat rehabilitasi narkoba rawat jalan bisa digunakan untuk merehabilitasi narkoba sambil rawat jalan.

Berikut ini daftar lengkap tempat untuk rehabilitas narkoba di Indonesia.

Daftar Tempat Rehabilitasi Narkoba Rawat Inap

Di bawah ini daftar tempat rehabilitasi narkoba di Indonesia yang memiliki memiliki fasilitas rawat inap dapat di lihat disini

https://bnn.go.id/daftar-tempat-rehabilitasi-narkoba-di-indonesia/


Sabtu, 30 Mei 2020

Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba Jenis Sabu

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Tahukah Anda bagaimana cara melakukan pertolongan pertama ketika orang mengalami sakau karena sabu-sabu atau narkoba? Tak banyak orang yang tahu bagaimana melakukannya. Padahal cara ini begitu penting diketahui.Sebelum membahas mengenai tips melakukan pertolongan pertama pada penderita yang mengalami sakau, ada baiknya mengetahui bagaimana gejala sakau itu terjadi dan ciri-ciri orang yang mengalami sakau karena Sabu-sabu.Gejala sakau bisa terjadi karena penghentian pemakaian narkotika secara mendadak atau menurunnya dosis narkoba yang digunakan. Gejala sakau karena sabu, terjadi akibat pemberhentian pemakaian sabu secara mendadak. Katakanlah 2 bulan ini pemakai berat, tiba-tiba dia berhenti akan jadi sakau. Gejala tubuh akibat pemberhentian mendadak atau akibat menurunnya dosis sabu secara drastis.

Ciri-Ciri Orang Sakau

Ada beberapa tanda atau gejala yang dialami orang sakau karena sabu. Berikut ini beberapa di antaranya :
  • depresi,
  • Mudah Marah,
  • mual muntah, kejang
  • mood yang mudah berubah,
  • sulit berkonsentrasi
  • paranoid,
  • Nafsu makan meningkat,
  • Halusinasi,
  • kecemasan,
  • Mudah gelisah,
  • tidurnya terlalu lama,
  • Ketika ada masalah ada kecenderungan bunuh diri,
  • menarik diri,
  • Mengisolasi diri dari orang yang sering bergaul,
Gejala Fisik Pecandu Sabuyang mudah diidentifikasi adalah :
  • kulit pucat
  • kontak mata yang buruk.
  • bicara gagap
  • badan yang ngilu
  • kumal, penampilan fisik berantakan,
  • pergerakan lambat,
  • bibir (terlihat) semacam mau ngunyah,
  • kelelahan yang ekstrem

Langkah-langkah Pertolongan Pertama untuk Orang Sakau Narkoba / Sabu-Sabu

Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan ketika ada orang yang mengalami sakau karena narkoba.

1. Siapkan air panas di dalam botol

Fungsi dari air panas ini untuk menghilangkan sakit perut pada pengguna. Caranya botol berisi air panas itu bisa diletakkan pada bagian perut pengguna sehingga kondisi orang ini akan merasa lebih baik.

2. Letakkan di ruangan yang tenang.

Ketika Anda mendapati teman, saudara atau teman sedang sakau, Anda harus cari tempat yang tenang dan kemudian tempatkan orang tersebut di dalam ruangan. Dengan ruangan yang tenang, kondisi kejiwaan penderita ini bisa menjadi lebih tenang.

3. Hubungi Dokter atau Tenaga Medis

Segera cari bantuan dari tenaga medis agar bisa melakukan penanganan terhadap orang yang sedang sakau ini. Dengan penanganan yang tepat, nantinya bernagsur-angsur orang yang sakau itu akan pulih.

4. Sediakan Media Hiburan

Misalnya televisi, majalah atau radio. Dengan media hiburan itu bisa menjadi sarana pengalih perhatian bagi penderita yang sedang sakau.

5. Hindari Memberi Obat

Sebaiknya kita tidak langsung memberikan obat-obatan untuk menghilangkan rasa sakit. Sebaiknya kita menunggu instruksi dari dokter mengenai obat yang tepat diberikan pkepada orang yang tengah sakau ini.

6. Temani

Jangan biarkan orang yang sakau sendirian. Pastikan ada selalu yang menemani untuk memastikan kondisinya dalam keadaan baik.

7. Coba Berkomunikasi

Coba untuk berbicara dengan pasien ini dengan cara yang tenang. Dengan begitu, kita bisa tahu seberapa jauh efek sakau yang dialami oleh pasien ini.Jika memungkinkan, coba tanya seberapa banyak narkoba yang dikonsumsi. Dengan begitu kita bisa mengidentifikasi apa jenis narkoba atau sabu yang digunakan oleh pasien dan nantinya hal ini bisa diberitahukan kepada tenaga medis.

8. Siapkan Ambulance

Dalam kondisi tertentu, biasanya penanganan lanjutan akan dilakukan di rumah sakit. Oleh karena itu, kita bisa mencoba mencari ambulance agar ketika dibutuhkan pasien ini bisa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

9. Upayakan Pasien tetap tenang

Pada narkoba jenis tertentu bisa membuat orang menjadi sangat agresif. Karena itu, kita bisa coba untuk terus menenangkan pasien.

10. Lepas pakaian

Terkadang pada kasus sakau tertentu, orang tersebut akan merasa kegerahan. Untuk itu, kita bisa coba untuk melepaskan baju pasien agar kondisi tubuhnya bisa lebih dingin.

11. Pantau Terus Kondisi Pasien

Jika sampai misalnya orang yang sakau itu sampai pingsan, ini menunjukan kondisinya memburuk. Penting untuk selalu ada yang mengawasi kondisi pasien ini.

12. Percayakan pada Tenaga Media

Biarkan dokter atau tenaga medis yang membantu penanganan orang yang sedang sakau ini. Percayakan sepenuhnya pada ahlinya.

13. Hindari Memberi Minuman Bersoda

Hindari memberi minuman bersoda atau pun berkafein. Sebab dikhawatirkan dapat membuat kondisi pasien itu bertambah buuk.Itulah beberapa langkah yang perlu dilakukan jika mengetahui ada orang yang sedang sakau karena sabu atau narkoba. Pastikan untuk segera menghubungi tenaga medis agar kondisi pasien ini bisa cepat tertangani.#BNN#StopNarkoba#CegahNarkobaSumber :


Jumat, 14 Februari 2020

Narkoba, Teror Yang Sebenarnya!

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Pantas saja kejahatan narkotika digolongkan sebagai kejahatan yang sangat serius. Pantas juga, para pendekar anti narkoba selalu mengingatkan agar semua rakyat Indonesia tidak sekalipun coba-coba mengonsumsi narkoba. Pantas pula, pemerintah selalu mengingatkan betapa pentingnya pengguna narkoba untuk segera bertobat dan berobat sebelum terlambat. Pantas pula jika sebagian besar rakyat Indonesia geram dengan banyaknya bandar yang masing beredar. Jangan salahkan juga jika rakyat meminta para bandar segera dijamah timah panas.Mari kita ingat, dalam urusan narkoba, negara ini sedang berada dalam situasi darurat. Fakta terus berbicara, dari tahun ke tahun fakta jahatnya narkoba yang mencengangkan mata selalu menghiasi layar kaca dan mencuri perhatian para kuli tinta untuk menempatkannya dalam editorial maupun tajuk rencana. Semua orang ramai berkomentar dan membicarakan narkoba, ketika kejadian buruk menimpa.Delapan tahun silam, 22 Januari 2012, Afriyani menewaskan 12 pejalan kaki karena mengemudi dengan ugal-ugalan usai menenggak ekstasi. Tidak lama berselang, Novi yang mengemudi mobil di bawah pengaruh narkoba juga menabrak sejumlah pejalan kaki. Meski tidak menghilangkan nyawa, tapi itu tetap mengancam keselamatan jiwa dirinya dan juga orang lain. Saat tidak ada hal buruk terjadi gara-gara narkoba, orang sepertinya kembali terlena dan lupa, karena hingar bingar politik atau persoalan ekonomi mungkin lebih menarik untuk dilihat dan didengarkan. Pada saat yang sama, kita tidak sadar bahwa banyak saudara kita yang meregang nyawa karena dampak dari narkoba.Data mengatakan, puluhan anak bangsa meninggal setiap harinya gara-gara narkoba. Sekarang kita dihadirkan lagi dengan fakta yang memilukan. Christopher, seorang anak muda yang diketahui studi di Amerika, mengemudikan mobil secara membabi buta hingga membuat empat keluarga berduka. Empat orang meninggal dunia akibat ulah Christopher yang mengemudi tanpa etika. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa Chris mengonsumsi narkotika. Apakah kita hanya menjadi penonton saja yang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya? Ataukah kita hanya akan jadi komentator saja yang mengomentari apa terlanjur terjadi? Fakta jelas di pelupuk mata betapa jahatnya narkoba.Berapa banyak orang yang harus kehilangan kesempurnaan hidupnya gara-gara narkoba. Jelas, bencana ini harus dicegah, ditangkal dan diselesaikan. Masa darurat kian melekat, dan masyarakat harus semakin peduli karena satu atau dua meter di samping kanan atau kiri anda, narkoba sudah mengintai Anda, atau keluarga. Tidak ada garis batas yang begitu tegas, karena narkoba bisa melibas segala batas.Anda pasti belum lupa, narkoba telah menghancurkan kehidupan sang guru besar, para abdi negara, hakim yang mulia hingga musisi tenar. Tak ada kriteria sasaran, karena memang narkoba seolah ingin masuk ke segala lini pertahanan bangsa ini. Stop cuek, stop apatis, stop pura-pura tuli akan masalah ini. Pandanglah keluarga sebagai benteng terkecil bangsa ini. Jika benteng pertama hancur, tentulah benteng-benteng selanjutnya akan tergempur hingga lebur. Mari rekonstruksi kembali diri kita, sejauh mana kita sudah berbuat untuk membuat sebuah perbedaan di tengah-tengah masyarakat. Upaya apa yang sudah kita perbuat untuk membuat orang lain buka mata bahwa narkoba ancaman bangsa yang sangat nyata. Ingat, narkoba itu teror nyata dan sebenar-benarnya teror yang selalu bergentayangan dan tiba-tiba bisa menyergap kita semua.Seperti kata Bang Napi, waspadalah, waspadalah…Penulis selalu ingat dengan sebuah pesan maknawi dari seorang motivator, Pak Nanang Kosim. Setiap hari, kita harus selalu membuat password kehidupan, karena kelak itu akan menjadi sebuah kunci untuk kehidupan sukses di masa yang akan datang. Ciptakannlah sejuta kata kunci dalam hidup, tapi jangan lupakan satu kata kunci yang satu ini, "Tuhan, hindarkan diri dan keluarga kami dari narkoba". Semoga kata-kata sederhana ini akan menjadi salah satu password yang kokoh, dan akan terkonversi menjadi semangat yang kuat dalam setiap jengkal gerak dan langkah manusia.sumber : https://bnn.go.id/narkoba-teror-yang-sebenarnya/


Jumat, 15 Mei 2020

Ramadhan : Ancaman Narkoba Di Tengah Pandemi Corona

http://bandungkota.bnn.go.id, bandung - Di tengah gencarnya perhatian bangsa ini akan wabah virus Corona (Covid-19) yang makin hari semakin masif, ada satu hal yang tak boleh terlupakan, yakni bahaya penyalahgunaan narkoba yang terus merusak anak bangsa negeri ini. Kita tahu saat ini wabah Covid-19 menyita seluruh perhatian kita. Tapi jangan lupa ancaman narkoba yang lebih berbahaya dimasa depan juga belum berakhir. Dalam sebulan terakhir ini saja Badan Narkotika Nasional bersama Bea dan Cukai menggagalkan peredaran gelap narkoba jenis shabu jaringan Aceh-Medan dengan barang bukti sebanyak 32 Kg di Asahan, Sumatera Utara. Ditambah lagi ditengah pandemik corona ini ada sederet artis tanah air yang lagi-lagi terciduk kasus narkoba. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan. Karena pada situasi pandemi covid-19 yang masih melanda negeri ini, telah banyak hal yang membuat aktivitas kita terhenti, namun di sisi lain masalah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba tidak pernah berhenti di Negara kita. Meski demikian, dalam konteks upaya penanggulangan narkoba, masyarakat perlu dan harus terus diingatkan bahwa ancaman narkoba sudah sejak awal sebelum serangan virus corona ini muncul.Dalam situasi sekarang ini upaya sosialisasi bahaya narkoba yang biasanya menghadirkan massa besar tentunya tidak dapat lagi dilakukan untuk sementara waktu. Namun demikian, BNNP Aceh melalui Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat tentunya harus jeli untuk mengambil langkah pencegahan yang tetap aman dan memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat. Dari sekian banyak opsi yang ada, Program BNN menyapa dengan mobil keliling adalah salah satu program yang telah dijalankan oleh BNNP Aceh untuk sosialisasi. Program ini dianggap aman untuk dilaksanakan, mengingat petugas tidak perlu berinteraksi langsung dengan masyarakat. Melalui program BNN Menyapa ini petugas mengkompanyekan bahaya narkoba di lokasi-lokasi yang strategis di kawasan kota dan pedesaan. Di samping itu, BNNP Aceh juga menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan penyebaran virus corona dengan cara melakukan pola hidup bersih, sehat, menjaga jarak, selalu mencuci tangan baik setelah keluar rumah maupun aktivitas di dalam rumah, tidak keluar rumah jika tidak dalam keperluan yang mendesak, dan rajin berolahraga. Khusus bagi para pelajar yang diberikan libur agar memanfaatkan waktu belajar di rumah dengan mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru. Selain itu BNNP Aceh juga membantu membagikan masker secara gratis kepada masyarakat. Di antaranya membagikan masker kepada pedagang pasar, kepada civitas akademik baik itu Universitas Negeri maupun Universitas Swasta, yang semua itu dilakukan sebagai upaya mencegah penyalahgunaan narkoba dan penularan Virus Corona di tengah masyarakat. Walau dalam kondisi krisis seperti saat ini kita tetap harus bekerja keras dan dituntut kreatif dan inovatif dalam melaksanakan upaya pencegahan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) pada 18 maret 2020 lalu menyebutkan bahwa orang dewasa yang lebih tua (lansia) dan mereka yang memiliki masalah kesehatan tertentu berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi Virus Corona ini. Selain itu ternyata, ada kelompok lainnya yang juga berpotensi dan sangat rentan terhadap Covid-19 yang masih banyak belum diketahui masyarakat awam pada umumnya. Mereka adalah orang yang merokok, pengguna vape dan penyalahguna narkoba. Mengutip tulisan Dr. Nora Volkow, direktur National Institute on Drug Abuse pada bulan maret 2020 lalu: Covid-19 dapat menyerang beberapa populasi yang memiliki gangguan penggunaan narkoba, hal ini dikarenakan Covid-19 adalah jenis virus yang menyerang paru-paru, mereka yang pada umumnya ialah perokok tembakau, pemakai ganja maupun vape dapat saja terancam. Jika ada yang mengatakan bahwa pengguna narkoba aman dari serangan Covid-19, tentunya ini merupakan hal yang keliru. Dikarenakan ketika paru-paru seseorang terkena flu atau infeksi lain, efek buruk dari merokok atau zat menguap pada narkoba yang digunakan orang tersebut jauh lebih serius akibatnya daripada orang-orang yang tidak merokok atau menggunakan narkoba. Selain merokok dan penggunaan vape orang yang menyalahgunakan narkoba jenis opioid dan metamfetamin dapat berisiko mengalami komplikasi serius Covid-19, karena efek dari zat ini terhadap pernapasan dan kesehatan paru-paru si pengguna. Salin itu, zat narkoba jenis opioid dapat memperlambat pernapasan dan telah terbukti meningkatkan angka kematian pada orang dengan penyakit pernapasan. Kapasitas paru-paru yang terpengaruh Covid-19 juga dapat membahayakan bagi penyalahguna narkoba. Begitu pula dengan pengguna narkoba jenis shabu. Metamfetamin (shabu) telah terbukti menghasilkan kerusakan paru yang signifikan karena sangat terikat pada jaringan paru. Bagi mereka yang memiliki masalah penggunaan narkoba dan saat ini sedang menjalani rehabilitasi, atau mengandalkan terapi secara langsung, melibatkan interaksi manusia, seperti sesi konseling individu atau klinik metadon, yang secara berlawanan dengan aturan “physical distancing. Tentunya berdampak pada upaya pemulihannya. Hal ini harus dapat diketahui dan dipahami oleh masyarakat bahwa orang yang menggunakan narkoba lebih cenderung berisiko terkena Covid-19 dan berbahaya dari pada mereka yang hanya sekedar merokok. Mereka yang sehat saja jika terjadi atau melakukan kontak fisik pada orang yang terkonfirmsi Covid-19 sedapat waktu berubah status menjadi Orang Dalam Pemantauan (ODP). belum lagi pengguna narkoba yang kita tidak ketahui terkonfirmasi Covid-19 atau tidak. Ini yang harus disadari oleh masyarakat terlepas mereka pengguna narkoba atau tidak bahwa penularan Covid-19 ini sangatlah cepat.Jika ditelisik lebih mendalam, Kenyataan miris ini tentu menghentakkan kita semua. Jika dilihat dari kasus-kasus yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, tingkat kematian yang diakibatkan oleh Covid-19 sangatlah cepat pertumbuhannya. Tingkat kematian yang diakibatkan Covid-19 di Negara kita dalam beberapa bulan saja hampir menyentuh angka 800 jiwa, dengan melawati angka 9000 kasus terhitung Januari-April 2020. Belum lagi masalah kematian yang diakibatkan oleh penyalahgunaan narkoba berdasarkan hasil penelitian Puslitkes Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional yang dalam 1 hari bisa menewaskan 30-35 orang dalam sehari. Ini tentunya sangat sulit diatasi secara bersamaan, karena penyelesaiannya melibatkan banyak faktor dan kerjasama dari semua pihak yang bersangkutan, seperti pemerintah, masyarakat, media massa, keluarga, dan pihak-pihak lain.Krisis Ekonomi & Azas ManfaatTidak hanya masalah di atas, di tengah masa darurat covid-19 tentunya dampaknya terhadapat ekonomi masyarakat kecil dan menengah tentunya sangatlah dirasakan. Ditengah beralihnya fokus pemerintah dalam penanganan Covid-19 ini, krisis ekonomi yang dirasakan, meningkatnya jumlah pengangguran dan bertambahnya tenaga kerja yang di PHK, tentunya dapat menjadi azas manfaat bagi para bandar narkoba untuk mengsuplai dan memperdagangkan barang haram tersebut. Hal ini yang harus benar-benar kita waspadai. Ketidak pahaman masyarakat mengenai narkoba dan resikonya dapat menjadi celah para bandar dalam memasarkan barang haram ini. Iming-iming ditengah masa Covid-19 ini ekonomi semakin sulit, tingkat stres masyarakat karena Covid-19 yang tinggi, sulitnya mencari pekerjaan, sudah tentu masyarakat yang tidak mengetahui dampak buruknya dan berfikir pendek dapat diperdaya dan dibohongi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab (bandar & pengedar). Jangan sampai masyarakat yang sehat lengah malah menjadi kurir narkoba.Di sini akhirnya kita dapat menyadari bahwa penyuluhan dan informasi di masyarakat mengenai bahaya peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba serta Covid-19 sampai saat ini belumlah maksimal. Untuk itu penyuluhan dan tindakan edukatif harus direncanakan, diadakan dan dilaksanakan secara efektif dan intensif kepada masyarakat yang disampaikan dengan sarana atau media yang tepat dan sesuai untuk masyarakat disamping upaya kita dalam pencegahan penyebaran Covid-19.Ramadhan Sebagai MomentumMelihat persoalan-persoalan yang terjadi baik itu covid-19 dan narkoba, maka setidaknya ada beberapa solusi altenatif atau beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, pendekatan agama. Melalui pendekatan ini, masyarakat yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Dalam Islam narkoba telah terbukti dapat merusak Agama (Addin), Jiwa (An Nafs), Akal (Al Aqli), Keturunan (An Nasli), dan Harta (Al Mali) penggunanya. Kelima Maqashid Syariah itu akan rusak dan hancur apabila seorang muslim terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, bulan ramadhan ini adalah momentum untuk membersihkan diri dari pengaruh jahat dan momentum memperbaiki diri kearah yang lebih baik.. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.Kedua, pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba. Adapun bagi mereka yang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadi yang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata. Memotivasi mereka untuk mau melakukan upaya pemulihan baik itu secara mandiri maupun melalui program rehabilitasi.Ketiga, pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini agar tersadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadirannya di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting, dan itu mendorong mereka terbentuknya self Regulation, dan Asertiveness dalam dirinya, dan akan tertanam di dalam dirinya untuk menghindari setiap ancaman dan ajakan yang merugikan mereka. Masyarakat harus dapat menerima dan merangkul mereka sebagai bagian dari komunitas sosialnya. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat menghidupkan system imun sosialnya.Inilah beberapa pendekatan yang diharapkan mampu menggerakkan hati masyarakat untuk selalu sadar secara kolektif dan mengantisipasi dalam berbagai hal. Baik itu masalah narkoba maupun masalah Covid-19. Kita semua mengharapkan kehidupan saat ini berjalan dengan baik. Namun di tengah cobaan Covid-19 ini kita tergerak untuk saling menghimbau dan mengingatkan sesama kita bahwa ancaman keberlangsungan hidup itu akan selalu ada pada setiap zaman. Semoga kita terhindar dari itu semua.Sumber :Efrar Khalid Hanas, S.PsiPenyuluh Dayamas BNN Provinsi Acehhttps://bnn.go.id/ramadhan-ancaman-narkoba-tengah-pandemi-corona/


Kamis, 14 Mei 2020

Dampak Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Gangguan Kesehatan Terkait Kerentanan Terhadap Covid-19

http://bandungkota.bnn.go.id, Bandung - Penyebaran Covid-19 (corona virus desease-19) atau dikenal dengan corona virus tengah menjadi pandemi dunia hal ini dikemukakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), situasi ini membuat semua negara di belahan dunia berupaya dengan sekuat tenaga untuk menahan penyebaran virus corona bagaimana tidak, virus ini bersifat dapat menyebar dari orang ke orang melalui droplet orang yang terinfeksi virus corona, menyebabkan kematian dan juga berdampak pada penyusutan ekonomi suatu negara. Dari data situs https://www.worldmeter.info/coronavirus/ per tanggal 30 April 2020 jumlah kasus korona virus di dunia mencapai 3.220.969 jiwa dengan total kematian 170.566 jiwa. Sedangkan untuk Indonesia mencapai 9.771 dengan jumlah kematian 784 jiwa, data ini masih terus menunjukkan peningkatan yang artinya bahwa semakin banyak orang yang terinfeksi virus corona.Lalu apa kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba?Hasil penelitian Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya–LIPI Tahun 2019, tentang Survei Penyalahgunaan Narkoba Tahun 2019 menunjukkan bahwa angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai 1,80% atau sekitar 3.419.188 jiwa atau bisa dikatakan 180 dari 10.000 Penduduk Indonesia berumur 15 – 64 tahun terpapar memakai narkoba selama satu tahun terakhir. Narkoba yang paling banyak digunakan adalah shabu, ganja diikuti oleh ATS dan zat psikotropika lainnya dengan cara penggunaannya adalah disuntik, dirokok, dihirup, disuntik & dihirup, ditelan dan sublingual.Sedangkan hasil penelitian Riset Kesehatan Dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019 di 6 Provinsi yang mempunyai tempat Rehabilitasi menunjukkan berbagai keluhan fisik yang oleh responden dianggap terkait dengan pemakain zat yang disalahgunakan. Terutama keluhan sehubungan dengan infeksi rongga mulut (59,5%), gangguan pernafasan (52,8%), gangguan kulit (24,1%), dan overdosis (14,1%). Dampak fisik lainnya yang mereka alami adalah pusing-pusing hebat (73%), gangguan gigi (64,1%) dan gangguan rongga mulut (60,1%) merupakan keluhan yang paling sering dikemukakan dengan variasi frekuensi kejadian gangguannya.selain itu, responden juga menyebutkan dampak jangka panjang dari penyalahgunaan zat seperti gangguan kejiwaan (13,1%), penyakit menular seksual sebanyak (6,8%), hepatitis C sebanyak (5,8%), penyakit TBC (3,0%), sirosis hati (1,5%), AIDS (2,7%) stroke (0,8%), kebocoran katup jantung (0,2%), dan penyakit lain-lain (14,6%). (Riset kesehatan dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019).Berikut penulis mengutip wawancara kualitatif dengan tenaga medis yang melakukan perawatan di lembaga rehabilitasi pada Riset kesehatan dampak Penyalahgunaan Narkotika Tahun 2019.Dokter 52001, L-34 tahun”Efek shabu…..rata-rata dimasalah infeksi saluran pernafasan atas, jadi klien yang masih detoksifikasi, kadang ada keluhan batuk, sesak nafas, mungkin sebelumnya ada riwayat yang memperberat missal klien ada asma, terus pake sabu juga stimulant sehingga memperberat. Kalau yang gak punya riwayat … dari withdrawal, kadang ada sesak, berdebar-debar, kadang pusing, bervariasi. Keluhannya biasa sakit kepala, yang hilang timbul…”Berdasarkan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh “European Respiratory Journal 2020 DOI : 10.1183/13993003.00547-2020” yang berjudul “Cormorbidity and its impact on 1590 patiens with Covid-19 in China : A Nationwide Analysis pada situs erj.ersjournal.com menyebutkan bahwa adanya kormobiditas  dan karakteristik klinis serta hasil Covid-19, dengan jenis kormobiditas spesifik adalah hipertensi, penyakit kardiovaskuler lainnya, penyakit serebrovaskuler, diabetes, infeksi hepatitis B, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit ginjal kronis,  penyakit ganas dan defesiensi imun walaupun tidak ditemukan asma. Dengan kesimpulan pasien yang dikonfirmasi Covid-19 dengan kormobiditas mempunyai dampak klinis yang lebih buruk dibandingkan yang tidak.Dikutip dari berita CNN, Rabu 15 April 2020 15:20 terkait “Penyakit Penyerta Penyebab Kematian Pasien Covid-19” menyebutkan bahwa—Pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) dapat memiliki gejala yang parah dan memberatkan jika mempunyai kormobid atau penyakit penyerta. Terdapat beberapa penyakit penyerta yang bisa menyebabkan kematian pada pasien Covid-19 yaitu Hipertensi, Diabetes, Penyakit Paru (Obstruktif Kronis, asma dan TBC), Penyakit Jantung dan demam berdarah dengue (DBD).Penulis tidak ingin menyimpulkan bahwa penyalahguna narkoba yang mempunyai gangguan kesehatan seperti TBC, gangguan pernafasan, AIDS dan penyakit lainnya akan mudah terinfeksi covid-19, karena virus corona ini adalah virus baru yang membutuhkan penelitian berbasis keilmuan. Namum lebih pada bagaimana mencegah penularan covid-19 di semua lembaga rehabilitasi di Indonesia dalam bentuk kebijakan atau SOP penatalaksanaan klien di semua lembaga rehabilitasi agar petugas rehabilitasi maupun klien rehabilitasi terhindar dari infeksi corona virus. Sebagaimana diatur dalam UU Dasar Negara RI Tahun 1945 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk hidup. Hal-hal yang dapat disarankan penulis adalah :

  1. Menerapkan prosedur ketat pencegahan covid-19 kepada petugas rehabilitasi maupun klien sebagaimana anjuran pemerintah baik di rehabilitasi rawat jalan maupun rawat inap agar tidak terjadi penularan antara petugas ke klien maupun sebaliknya
  2. Meniadakan kunjungan keluarga untuk sementara waktu ke tempat rehabilitasi rawat inap
  3. Melakukan upaya penyediaan sarana kesehatan untuk deteksi dini dalam bentuk thermal scanner, tes PCR dan lain sebagainya
  4. SOP penatalaksanaan medis klien rehabilitasi yang terinveksi covid-19 (ruangan wawancara, ruangan isolasi, sarana kesehatan, obat-obatan suportif /lifesaving, vitamin, APD termasuk sistem rujukan)
  5. Menyediakan media komunikasi risiko, atau bahan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) dan menempatkan bahan KIE di lokasi yang tepat
  6. Membentuk satuan tugas pencegahan Covid-19 dalam upaya penguatan lembaga rehabilitasi pemerintah maupun masyarakat terkait penatalaksanaan klien rehabilitasi di tengah pandemi covid-19.
Hal ini tentunya memerlukan keputusan yang matang dalam pembuatan kebijakan jangka panjang mengingat pandemic Covid-19 ini belum dapat diketahui kapan akan berakhir, bahkan di China tempat pertama kali muncul virus corona yang telah dinyatakan sudah berakhir mengalami gelombang kedua. Dan semoga semua petugas rehabilitasi narkoba di Indonesia dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari virus corona. #StopNarkoba#CegahNarkoba#BNNSumber :NI NYOMAN HUGYAPASNA RUSMIATI, S.KMPenyuluh Narkoba BNN Kota Jakarta Timurhttps://bnn.go.id/dampak-penyalahgunaan-narkoba-terhadap-gangguan-kesehatan-terkait-kerentanan/



Suara Masyarakat


aaaa

ssssss

DATA STATISTIK BNNP JAWA BARAT

0

Total Kasus Narkoba

0

Total Tersangka Kasus Narkoba

0

Total Pasien Penyalahgunaan

0

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

0

Jumlah Sebaran Informasi